Wednesday, 3 February 2016

Belanja Online Asyik Juga I


Sudah pernah belanja online?
Takut ditipu? atau gimana? Mungkin setelah membaca tulisan ini berkali-kali saya ragu jika kalian tetap mempertahankan pikiran-pikiran itu. Mengapa? Simak saja kisah berikut ini.

Kelas 2 sekolah lanjutan adalah pertama kalinya saya mencoba bertransaksi di dunia maya. Jujur saat itu saya merasa takut, khawatir dan segala macam pikiran buruk yang serupa. Namun saya mencoba meyakinkan diri dengan mengamati gerak-gerik calon penjual yang akan saya ajak transaksi. Mulai dari meninjau keaslian akun (saat itu lewat media sosial), membaca testimonial hingga bertanya langsung kepada ownernya.

Setelah dirasa puas atas segala stalking saya lakukan, selanjutnya saya membuat rekening. Pagi-pagi buta saya sudah bersiap untuk pergi. Jam segitu emang ada bank yang sudah buka? Saya tidak pergi ke bank, tetapi ke tetangga saya yang secara kebetulan beliau bekerja di suatu bank yang akan saya tuju itu. Ngobrol panjang lebar tinggi, akhirnya saya dapat bekal bagaimana langkah-langkah dalam membuat rekening.

Berhubung rumah saya sangat strategis, saya tidak perlu jauh-jauh untuk pergi ke sebuah bank. Cukup naik sepeda kurang lebih 5 menit saya sudah sampai dilokasi. Dengan pedenya saya masuk dengan lagak seperti orang berpengalaman. Ambil nomor antrean, duduk di ruang tunggu sambil mengawasi keadaan sekitar yang sangat ramai.

Sekian lama menunggu giliranpun datang. Saya bilang pada tellernya bahwa saya ingin membuat rekening. Kemudian diarahkan ke sebuah tempat yang khusus dalam pembuatan rekening dan atm. Saya diwawancarai akan data diri. Setelah tellernya bertanya panjang lebar, saya balik bertanya akan keamanan transaksi online

Singkat cerita rekening dan atm saya jadi. Begitu pula pembayaran atas transaksi online yang telah saya lakukan sebelumnya telah selesai. Kemudian saya hubungi sang penjual bahwa pembayaran sudah tuntas. Sekarang tinggal menunggu barang yang saya pesan. Pasrah, itulah yang saya lakukan dalam proses penantian pesanan yang sedang dikirim.

Perasaan khawatir perlahan menghampiri. Setelah dua hari saya menghubungi penjualnya.
Mas Kresna : "Pesanan saya gimana mas?"
Penjual        : "Maaf pesanan yang mana ya?"
Mas Kresna : "Pesanan atas nama det detdet dan pembayaran atas nama detdetdetdetdet"
Penjual        : "Nggak ada itu mas"
Mas Kresna : "Loh, ini gimana sih mas?"
Penjual        : tak merespon
Saya kontak-kontak terus nggak ada balesan. Perasaan cemas semakin bergemuruh. Akhirnya keesokan harinya saya mendapati sebuah nomor resi lewat pesan singkat.
Penjual        : "Maaf mas, ternyata pesanannya sudah dikirim dua hari yang lalu. Ini nomor resinya, bisa dicek di JNE"
Alhamdulillah, ternyata hanya salah paham saja.

Dalam proses pengiriman sang penjual bekerjasama dengan JNE. Jasa pengiriman ini menyediakan fitur (dalam websitenya) posisi barang kiriman. Jadi kita bisa tahu sudah sampai mana posisi barang yang kita pesan atau antar. Tanpa perlu menunggu waktu lama pesanan saya pun tiba. Diantar langsung sampai depan rumah. Meskipun belum tahu rumahnya, sebelumya pihak mereka sudah menghubungi alamat tujuan bahwa pesanan sudah sudah tiba di cabang JNE terdekat dari rumah kita. Dan mereka meminta petunjuk dan arah menuju tujuan akhir. Yaitu rumah kita. To be continued



0 comments:

Post a Comment